Aku tak paham tentang keluarga tapi aku paham tentang perempuan. Akankan perempuan dijadikan sebagai sebuah barang yang jika tak indah lagi akan dibuang ke gudang atau mungkin saja diabaikan.
“Ya allah apakah suami hamba nggak cinta dan peduli lagi dengan hamba? Kalau benar beri hamba kekuataan, berikan kebahagiaan buat dia ”
Doa ini aku dengar dari mulut seorang perempuan muda yang telah putus asa tentang rumah tangga mereka. Aku tak bisa berkomentar apa-apa bagiku keluarga ternyata tak segampang yang kita bayangkan. Perlu suatu perencanaan yang matang tidak hanya mengandalkan cinta versi manusia. Cinta manusia kadangkala hanya berdasarkan nafsu atau keinginan untuk saling memiliki. Padahal cinta yang seharusnya dimiliki oleh manusia adalah cinta menuju sebuah cinta yang Maha Teratas.
Keluarga memang tak segampang yang kita kira karena rumah tangga butuh perencanaan yang matang baik dari segi materil yang mengantarkan kita pada sebuah kenyamanan menyembah Zat Yang Maha Tinggi. Rumah Tangga butuh sebuah komitmen kerja keras yang mengantarkan kita pada ketenangan memeluk Zat Yang Maha Penyayang. Keluarga butuh pendidikan yang menjadikan Kecintaan kepadaNya semakin bermakna. Keluarga butuh Segalanya karena segalanya adalah MilikNya.
Aku tak paham tentang keluarga tapi aku paham tentang perempuan karena perempuan bukan barang tapi juga hamba Allah yang punya kepentingan yang sama. Keluarga ditangan lelaki itu tak benar tapi kenapa lelaki sering memegang kendali dan sering sok mengatur padahal tak punya kontribusi apa-apa dalam keluarga.
Pengembaraanku pada sebuah keluarga ini membuat aku makin paham tentang segalanya bahwa cinta nggak semudah yang aku bayangkan. Hanya luapan tetesan air mata aku berikan padamu perempuan bahwa ini pilihan dan aku yakin kamu telah siap menerima segala nya sampai mengorbankan diri menjadi tulang punggung demi sebuah keluarga yang utuh. Perempuan sampai kapan akan termakan oleh cinta buta mereka. Cinta tak seindah masa muda, bersemi dan lalu gugur satu demi satu dan selalu akan dibawa angin satu demi satu,ini fitrah. Akibat cinta yang dibangun bukan atas cinta pada Nya, tapi cinta pada nafsu.
Selasa, 08 Juni 2010
Rabu, 02 Juni 2010
CADARKU DALAM TEROR BIRAHI
Oleh Maryam Okhi
Tak kala sebuah tatapan dari balik tirai seakan memuntahkan segala hasrat yang selama ini aku pendam. Sangar tapi mengairahkan. Ada puluhan hasrat ku lihat dalam segelas susu yang ia tawarkan padaku setelah ia menyuruhku mandi dan shalat sunat malam ini. Tepat setelah ia menikahi aku sore tadi di Masjid Nabawi. Masjid pertama dalam sejarah kalender hijriyah, sang kekasih hatiku,Muhammad. Aku tak paham masalah perjodohan ini. Bagiku sekarang bagaimana aku bisa sekolah disini tanpa hambatan. Segala syarat akan aku penuhi demi Kota Hadist ini. Termasuk menikah dengan pria Arab ini. Pria yang katanya anak ulama besar kota Hadist. Satu alasan kenapa aku mau menerima lamarannya adalah wasiat relatif abahku tak kala anak perempuanya ingin belajar ke negri Arab.
Wasiat, sampai kapan orang mati akan selalu menyisakan wasiat kepada ahli warisnya. Wasiat bagiku adalah suatu yang harus aku jalani walaupun sebagian ulama membolehkan untuk tidak melaksanakan wasiat jika tak pada tempatnya. Wasiat untuk menikah dengan anak keturunan hafiz Alquran dan Hadist. Ya dialah sekarang, Ibnu Hasyim seorang yang berbadan besar tengah berada disampingku dengan status suamiku. Aku, Maryam menjadi istri pemakan daging terbanyak dunia. Jika kita di Indonesia memakan paha daging ayam saja sudah kewalahan, bagi mereka satu ekor daging ayam pun masih belum seberapa.
“Maryam , kau konyol” batinku berucap. Senyuman lebar khas Arab yang ia hadiahkan padaku malam ini. Aku tak kenal kau lelaki, tapi aku halal untukmu. Sangat halal. Masih dengan segelas susu di tanganku. Aku masih berusaha untuk terus memandanginya dengan berbagai pikiran. Aku memang seorang wanita yang sudah paham segala urusan fiqh,begitu juga dengan kitab nikah yang diajarkan oleh Teh Aisyah, adik abahku. Teteh buka-bukaan saja padaku segala ritual biologis orang dewasa. Memang semuanya tertera disini. Otak kotorku mulai menjalin kerjasama dengan nafsuku.
Apapun yang akan orang besar ini lakukan padaku. Aku akan siap. Aku halal baginya dan aku berdosa jika aku menolaknya. Kemudian tangannya yang berbulu mulai membuka cadarku. Aku hanya diam dan pasrah. Dia lalu mengambil gelas susu yang aku pegang dan meminumnya. Persis seperti cerita-cerita yang aku baca di berbagai buku nikah. Sepertinya aku sudah tahu kelanjutannya.
“Aku baru kenal kau tadi pagi pas kau jemput aku di bandara, lalu kau nikahi aku tadi sore lalu malam ini kau akan meniduri ku. Segampang itukah? Aku memang orang terdidik dengan ilmu agama secara teori tapi untuk kitab munakahat aku rasa belum pantas aku laksanakan. “ ujarku dengan kasar padanya sambil meneguk juga sisa minuman yang ia tawarkan. Dia seakan tak menghiraukan apa yang aku lontarkan padanya. Aku melihat tatapan seorang manusia sangar yang ingin mencumbuku. “Tak ada yang salah bukan, kamu halal untukku, aku tak melanggar aturan bukan?”. Dia menyentuhku.
Dialah lelaki pertama yang menyentuhku, aku akui sentuhannya membuat aku bergairah. Tapi pikiran pikiran bahwa aku belum pantas untuk dia setubuhi membuat aku melawannya. Oh Tidak kenapa harus titik ini yang kau sentuh. Titik-titik yang selama ini aku jaga dengan balutan pakaian dan cadarku. Oh Hasyim, aku hampir saja larut dalam pelukanmu. Aku seakan terjebak dalam sebuah nafsu bejat ini. Maryam inikah hasil kerja kerasmu dengan sekelumit aturan yang diwasiatkan abahmu padamu. Inikah cita-cita yang ingin kau kejar di kota penuh sejarah kekasihmu. Aku merasa terjebak di usiaku yang baru dua puluh tahun aku telah di sentuh oleh seorang lelaki asing. Aku tak kenal budayanya. Aku tak kenal kau Hasyim. Aku hanya tahu kita punya keyakinan yang sama , pedoman yang sama tetapi kita berbeda Hasyim. Oh abahku, aku tak bisa menyalahkan kepemimpinanmu padaku. Kau kiai dengan berbagai ilmu agama yang mendalam. Semua ini kesalahanku karna aku anak kiai dengan berbagai aturan-aturan . “ Astagfirullah, Rabb maafkan aku telah kufur seperti ini” . Aku tak tahu bagaimana akhir hidupku di kota Madinah ini. Oh kekasih Allah, Sang utusan Allah shalawat dan salam ku curahkan hanya padamu.
Aku masih berada dalam pelukan tubuh kekar Hasyim, suamiku. Aku ibarat sebuah boneka dipelukannya. Tubuhku sangat kecil dibandingkan dia. Lagi-lagi tubuhku semakin disentuh dengan lembut dihampir semua titik-titik sensitivku. Aku warga Indonesia yang dikenal sangat terpelihara tiba-tiba di negeri orang begitu murahan. Dalam sehari semuanya berakhir di sebuah ranjang bersama lelaki Arab.Oh tanah airku Indonesia.
Cadar yang jadi identitasku setiap hari di luar mihrabku ternodai oleh birahi. Aku tak bisa mengelak. Aku bergairah, sangat bergairah, Apalagi dengan cumbuan yang ia kenalkan pada bibirku, aku larut, larut dan larut. Dalam semalam aku telah menyerahkan harga diriku pada seseorang lelaki Arab yang akan menjaga aku hidup di kota Hadist ini. Kota yang membahas tentang perkataan, perbuatan dan ketetapan seorang kekasih hatiku, Sang Rasulullah Utusan Allah, Muhammad ya Rasulullah. Mahram sangat dipertimbangkan jika ingin tinggal dan belajar di kota bernama Madinah al Mukaramah.
Aku tak kesulitan komunikasi dengan suamiku Hasyim. Aku telah terbiasa kedatangan tamu Arab di pesantren abahku, walaupun aku tak pernah melihat mereka. Biasanya setiap orang Arab datang ke pesantren,, aku diberikan waktu berdiskusi dengan mereka. Ada sebuah ruangan dengan hijab diluarnya, Walaupun aku orang pesantren yang kolot tetapi untuk ilmu pengetahuan aku tahu semuanya.
Malam ini berakhir dengan kepuasaan dan kehinaan. Secara batin aku merasakan sebuah kenikmatan tapi di lahir ini aku malu. Aku malu, malu kepada tanah bantenku. Aku tak bisa mengatakan apa-apa. Aku hanya ingin meyakini kalau aku halal baginya. Dia suamiku, apapun yang dia perlakukan padaku aku akan bersedia. Hampir setiap hari birahi ini telah menodai cadarku.
Aku tak paham dengan realita yang aku hadapi. Hampir dua tahun aku di kota Madinah ini dengan sekelumit aktivitas kampus dan rumah tangga. Semakin hari aku semakin mencintainya. Aku seakan telah melupakan segala yang bernama perlakuan berikan pada saat aku datang ke kota ini. Segala aktivitas rumah aku lakukan dengan Hasyim. Bagiku aku telah berhasil mencetaknya menjadi seorang lelaki Indonesia. Seorang akang yang aku dambakan. Aku akui cadarku masih saja menyimpan tanda tanya dibenakku. Untuk apa cadar ini aku kenakan. Aku masih saja bertahta dalam ritual biologis yang seakan sebuah keharusan. Oh Tuhan apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan segalanya. Segala asa dalam dua puluh satu umurku. Aku terjebak dalam dunia lain yang sangat pantas diembankan padaku. Sebuah dunia yang tak wajar. Apakah ini kelainan?
Sebenarnya aku tak ingin menceritakan aib ini pada kertas ini tapi aku harus bisa menelanjanginya supaya jalan keluar permasalahan ini ada. Aku berencana ingin mengirimkan ini pada teh Aisyah. Sebuah kelainan yang wajar bagiku tapi menganjal.
Kepada teteh,
Aku Maryam, telah berstatus istri pada usia 20 tahun. Dalam sehari semuanya berubah. Aku dijemput, dinikahi dan ditiduri Aku terima ini semua karna ini suatu pilihan yang harus aku buat. Demi cita-cita ke Arab aku menerima saran dan pilihan Abahku untukku. Aku paham masalah kitab nikah yang pernah aku bahas dengan teteh tapi batinku belum siap menerima ritual biologis ini awalnya. Teh, tapi ini semakin hari aku semakin menikmati ritual halal ini. Maaf, sepulang dari kampus aku telah dihujani oleh ciuman yang sangat mengairahkan. Setiap hari aku merasakan kasih sayang yang tiada terkira darinya, Hasyim. Aku telah sepakat rumah ini seperti mihrabku. Aku telah sepakat dengannya dia bukan orang Arab dia orang Banten bagiku dan bagi rumah ini. Aku setiap hari mengajarinya bahasa kita. Budaya kita. Budaya ya, disinilah awal segala kelainan bermula. Walaupun bahasanya tak selancar kita tapi dia sudah paham apa yang aku ucapkan.
Suami istri suatu yang kadang bisa menjadi rumit. Aku masih ingat sebuah tari topeng pernah aku ceritakan padanya. Kisah tentang cinta. Aku memang pernah belajar tari ini pada saat umurku tiga belas tahun dari sebuah buku dan sering aku coba mempelajarinya setelah aku selesai tahajud. Aku seakan sudah mulai candu dengan tarian ini. Tarian yang sangat indah. Diam-diam aku memesan pakaian tari topeng itu dan sebuah kaca berukuran dinding. Aku sengaja menyuruh mengantarnya pada saat shalat jumat karna waktu itu adalah waktu yang tepat. Di saat semua kaum lelaki penjaga wanita khidmat menyatukan kekuatan melaksanakan kewajibannya sebagai muslim.
Sebenarnya aku agak takut karna baru kali ini aku berani memesan sesuatu tanpa seizin abahku. Tapi apa daya aku candu. Aku sangat suka tari topeng ini. Aku menyuruh mereka langsung menggantung cermin di dinding ruang pribadiku. Setiap aku melakukan tarian ini aku seakan menangis dalam hati tapi aku selalu merasakan setiap kenikmatannya. Teh tolong bantu aku menyelesaikan sekelumit kebingungan. Tarian itu kini telah menjadi suatu perintah kang Hasyim. Hampir setelah tahajud aku mempersembahkan semuanya. Tari topeng dengan pakaiannya. Teh apakah kelainan ini akan bernilai dosa dihadapan tuhan ? Aku binguung teh tolong bantu Aku. Aku harus menyelesaikan masalah ini. Dari beberapa kajian yang aku lakukan, ternyata ini boleh dalam koridor agama dan dalam status suami istri. Sekarang aku berkubang dalam dua fenomena cadar dan birahi. Aku Maryam berada dalam posisi yang benar-benar sulit aku menyimpan birahi dalam cadar yang aku kenakan. Cadar yang aku pahami sebagai penutup aurat di tanah airku berlabuh pada birahi seorang lelaki Arab. Dan selalu akan begitu karena aku halal baginya.
Belum selesai aku menulis surat ini aku dipanggil oleh seorang yang telah pulang dari pekerjaannya sebagai dosen di kampusku. Sampai detik ini pun aku tak pernah menyelesaikan surat untuk tetehku. Aku Maryam berada dalam kebingungan yang tak kan berkesudahan pada negri yang tak aku kenal. (ciputat-Maret 2010)
Tak kala sebuah tatapan dari balik tirai seakan memuntahkan segala hasrat yang selama ini aku pendam. Sangar tapi mengairahkan. Ada puluhan hasrat ku lihat dalam segelas susu yang ia tawarkan padaku setelah ia menyuruhku mandi dan shalat sunat malam ini. Tepat setelah ia menikahi aku sore tadi di Masjid Nabawi. Masjid pertama dalam sejarah kalender hijriyah, sang kekasih hatiku,Muhammad. Aku tak paham masalah perjodohan ini. Bagiku sekarang bagaimana aku bisa sekolah disini tanpa hambatan. Segala syarat akan aku penuhi demi Kota Hadist ini. Termasuk menikah dengan pria Arab ini. Pria yang katanya anak ulama besar kota Hadist. Satu alasan kenapa aku mau menerima lamarannya adalah wasiat relatif abahku tak kala anak perempuanya ingin belajar ke negri Arab.
Wasiat, sampai kapan orang mati akan selalu menyisakan wasiat kepada ahli warisnya. Wasiat bagiku adalah suatu yang harus aku jalani walaupun sebagian ulama membolehkan untuk tidak melaksanakan wasiat jika tak pada tempatnya. Wasiat untuk menikah dengan anak keturunan hafiz Alquran dan Hadist. Ya dialah sekarang, Ibnu Hasyim seorang yang berbadan besar tengah berada disampingku dengan status suamiku. Aku, Maryam menjadi istri pemakan daging terbanyak dunia. Jika kita di Indonesia memakan paha daging ayam saja sudah kewalahan, bagi mereka satu ekor daging ayam pun masih belum seberapa.
“Maryam , kau konyol” batinku berucap. Senyuman lebar khas Arab yang ia hadiahkan padaku malam ini. Aku tak kenal kau lelaki, tapi aku halal untukmu. Sangat halal. Masih dengan segelas susu di tanganku. Aku masih berusaha untuk terus memandanginya dengan berbagai pikiran. Aku memang seorang wanita yang sudah paham segala urusan fiqh,begitu juga dengan kitab nikah yang diajarkan oleh Teh Aisyah, adik abahku. Teteh buka-bukaan saja padaku segala ritual biologis orang dewasa. Memang semuanya tertera disini. Otak kotorku mulai menjalin kerjasama dengan nafsuku.
Apapun yang akan orang besar ini lakukan padaku. Aku akan siap. Aku halal baginya dan aku berdosa jika aku menolaknya. Kemudian tangannya yang berbulu mulai membuka cadarku. Aku hanya diam dan pasrah. Dia lalu mengambil gelas susu yang aku pegang dan meminumnya. Persis seperti cerita-cerita yang aku baca di berbagai buku nikah. Sepertinya aku sudah tahu kelanjutannya.
“Aku baru kenal kau tadi pagi pas kau jemput aku di bandara, lalu kau nikahi aku tadi sore lalu malam ini kau akan meniduri ku. Segampang itukah? Aku memang orang terdidik dengan ilmu agama secara teori tapi untuk kitab munakahat aku rasa belum pantas aku laksanakan. “ ujarku dengan kasar padanya sambil meneguk juga sisa minuman yang ia tawarkan. Dia seakan tak menghiraukan apa yang aku lontarkan padanya. Aku melihat tatapan seorang manusia sangar yang ingin mencumbuku. “Tak ada yang salah bukan, kamu halal untukku, aku tak melanggar aturan bukan?”. Dia menyentuhku.
Dialah lelaki pertama yang menyentuhku, aku akui sentuhannya membuat aku bergairah. Tapi pikiran pikiran bahwa aku belum pantas untuk dia setubuhi membuat aku melawannya. Oh Tidak kenapa harus titik ini yang kau sentuh. Titik-titik yang selama ini aku jaga dengan balutan pakaian dan cadarku. Oh Hasyim, aku hampir saja larut dalam pelukanmu. Aku seakan terjebak dalam sebuah nafsu bejat ini. Maryam inikah hasil kerja kerasmu dengan sekelumit aturan yang diwasiatkan abahmu padamu. Inikah cita-cita yang ingin kau kejar di kota penuh sejarah kekasihmu. Aku merasa terjebak di usiaku yang baru dua puluh tahun aku telah di sentuh oleh seorang lelaki asing. Aku tak kenal budayanya. Aku tak kenal kau Hasyim. Aku hanya tahu kita punya keyakinan yang sama , pedoman yang sama tetapi kita berbeda Hasyim. Oh abahku, aku tak bisa menyalahkan kepemimpinanmu padaku. Kau kiai dengan berbagai ilmu agama yang mendalam. Semua ini kesalahanku karna aku anak kiai dengan berbagai aturan-aturan . “ Astagfirullah, Rabb maafkan aku telah kufur seperti ini” . Aku tak tahu bagaimana akhir hidupku di kota Madinah ini. Oh kekasih Allah, Sang utusan Allah shalawat dan salam ku curahkan hanya padamu.
Aku masih berada dalam pelukan tubuh kekar Hasyim, suamiku. Aku ibarat sebuah boneka dipelukannya. Tubuhku sangat kecil dibandingkan dia. Lagi-lagi tubuhku semakin disentuh dengan lembut dihampir semua titik-titik sensitivku. Aku warga Indonesia yang dikenal sangat terpelihara tiba-tiba di negeri orang begitu murahan. Dalam sehari semuanya berakhir di sebuah ranjang bersama lelaki Arab.Oh tanah airku Indonesia.
Cadar yang jadi identitasku setiap hari di luar mihrabku ternodai oleh birahi. Aku tak bisa mengelak. Aku bergairah, sangat bergairah, Apalagi dengan cumbuan yang ia kenalkan pada bibirku, aku larut, larut dan larut. Dalam semalam aku telah menyerahkan harga diriku pada seseorang lelaki Arab yang akan menjaga aku hidup di kota Hadist ini. Kota yang membahas tentang perkataan, perbuatan dan ketetapan seorang kekasih hatiku, Sang Rasulullah Utusan Allah, Muhammad ya Rasulullah. Mahram sangat dipertimbangkan jika ingin tinggal dan belajar di kota bernama Madinah al Mukaramah.
Aku tak kesulitan komunikasi dengan suamiku Hasyim. Aku telah terbiasa kedatangan tamu Arab di pesantren abahku, walaupun aku tak pernah melihat mereka. Biasanya setiap orang Arab datang ke pesantren,, aku diberikan waktu berdiskusi dengan mereka. Ada sebuah ruangan dengan hijab diluarnya, Walaupun aku orang pesantren yang kolot tetapi untuk ilmu pengetahuan aku tahu semuanya.
Malam ini berakhir dengan kepuasaan dan kehinaan. Secara batin aku merasakan sebuah kenikmatan tapi di lahir ini aku malu. Aku malu, malu kepada tanah bantenku. Aku tak bisa mengatakan apa-apa. Aku hanya ingin meyakini kalau aku halal baginya. Dia suamiku, apapun yang dia perlakukan padaku aku akan bersedia. Hampir setiap hari birahi ini telah menodai cadarku.
Aku tak paham dengan realita yang aku hadapi. Hampir dua tahun aku di kota Madinah ini dengan sekelumit aktivitas kampus dan rumah tangga. Semakin hari aku semakin mencintainya. Aku seakan telah melupakan segala yang bernama perlakuan berikan pada saat aku datang ke kota ini. Segala aktivitas rumah aku lakukan dengan Hasyim. Bagiku aku telah berhasil mencetaknya menjadi seorang lelaki Indonesia. Seorang akang yang aku dambakan. Aku akui cadarku masih saja menyimpan tanda tanya dibenakku. Untuk apa cadar ini aku kenakan. Aku masih saja bertahta dalam ritual biologis yang seakan sebuah keharusan. Oh Tuhan apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan segalanya. Segala asa dalam dua puluh satu umurku. Aku terjebak dalam dunia lain yang sangat pantas diembankan padaku. Sebuah dunia yang tak wajar. Apakah ini kelainan?
Sebenarnya aku tak ingin menceritakan aib ini pada kertas ini tapi aku harus bisa menelanjanginya supaya jalan keluar permasalahan ini ada. Aku berencana ingin mengirimkan ini pada teh Aisyah. Sebuah kelainan yang wajar bagiku tapi menganjal.
Kepada teteh,
Aku Maryam, telah berstatus istri pada usia 20 tahun. Dalam sehari semuanya berubah. Aku dijemput, dinikahi dan ditiduri Aku terima ini semua karna ini suatu pilihan yang harus aku buat. Demi cita-cita ke Arab aku menerima saran dan pilihan Abahku untukku. Aku paham masalah kitab nikah yang pernah aku bahas dengan teteh tapi batinku belum siap menerima ritual biologis ini awalnya. Teh, tapi ini semakin hari aku semakin menikmati ritual halal ini. Maaf, sepulang dari kampus aku telah dihujani oleh ciuman yang sangat mengairahkan. Setiap hari aku merasakan kasih sayang yang tiada terkira darinya, Hasyim. Aku telah sepakat rumah ini seperti mihrabku. Aku telah sepakat dengannya dia bukan orang Arab dia orang Banten bagiku dan bagi rumah ini. Aku setiap hari mengajarinya bahasa kita. Budaya kita. Budaya ya, disinilah awal segala kelainan bermula. Walaupun bahasanya tak selancar kita tapi dia sudah paham apa yang aku ucapkan.
Suami istri suatu yang kadang bisa menjadi rumit. Aku masih ingat sebuah tari topeng pernah aku ceritakan padanya. Kisah tentang cinta. Aku memang pernah belajar tari ini pada saat umurku tiga belas tahun dari sebuah buku dan sering aku coba mempelajarinya setelah aku selesai tahajud. Aku seakan sudah mulai candu dengan tarian ini. Tarian yang sangat indah. Diam-diam aku memesan pakaian tari topeng itu dan sebuah kaca berukuran dinding. Aku sengaja menyuruh mengantarnya pada saat shalat jumat karna waktu itu adalah waktu yang tepat. Di saat semua kaum lelaki penjaga wanita khidmat menyatukan kekuatan melaksanakan kewajibannya sebagai muslim.
Sebenarnya aku agak takut karna baru kali ini aku berani memesan sesuatu tanpa seizin abahku. Tapi apa daya aku candu. Aku sangat suka tari topeng ini. Aku menyuruh mereka langsung menggantung cermin di dinding ruang pribadiku. Setiap aku melakukan tarian ini aku seakan menangis dalam hati tapi aku selalu merasakan setiap kenikmatannya. Teh tolong bantu aku menyelesaikan sekelumit kebingungan. Tarian itu kini telah menjadi suatu perintah kang Hasyim. Hampir setelah tahajud aku mempersembahkan semuanya. Tari topeng dengan pakaiannya. Teh apakah kelainan ini akan bernilai dosa dihadapan tuhan ? Aku binguung teh tolong bantu Aku. Aku harus menyelesaikan masalah ini. Dari beberapa kajian yang aku lakukan, ternyata ini boleh dalam koridor agama dan dalam status suami istri. Sekarang aku berkubang dalam dua fenomena cadar dan birahi. Aku Maryam berada dalam posisi yang benar-benar sulit aku menyimpan birahi dalam cadar yang aku kenakan. Cadar yang aku pahami sebagai penutup aurat di tanah airku berlabuh pada birahi seorang lelaki Arab. Dan selalu akan begitu karena aku halal baginya.
Belum selesai aku menulis surat ini aku dipanggil oleh seorang yang telah pulang dari pekerjaannya sebagai dosen di kampusku. Sampai detik ini pun aku tak pernah menyelesaikan surat untuk tetehku. Aku Maryam berada dalam kebingungan yang tak kan berkesudahan pada negri yang tak aku kenal. (ciputat-Maret 2010)
Selasa, 18 Mei 2010
MARYAM
Aku bukan maryam binti Imran tapi kisah kelahiranku sama dengan bunda Maryam. Aku dilahirkan dari seorang perempuan dari pasangan yang telah menua. Abah begitulah biasa aku panggil Bapakku adalah seorang Pimpinan Pondok Pesantren Salafiyah di Daerah Banten. Beliau begitu terkenal di daerahku, beliau adalah panutan masyarakat yang disebut Kiai.
Kisahku hidupku dijadikan sama dengan
(to be continue)
Kisahku hidupku dijadikan sama dengan
(to be continue)
Minggu, 16 Mei 2010
AWAL PETUALANGAN HINA INI DIMULAI
Minggu, 09 Mei 2010
Pengembaraan hitam putih
Telah lama aku ingin menceritakan semua tentang pengembaraan ku. Pengembaraan tentang perempuan tentang pengkhianatan dan tentang keperawanan.
Langganan:
Postingan (Atom)

